Kuliah Outdoor di Desa Segoro Gunung, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar

Hari sabtu-minggu 17-18 Oktober 2009, kami mahasiswa TI’08 dan MATEMATIKA ‘09 mendapatkan pengalaman kuliah outdoor di Desa Segorogunung, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar. Desa Ngargoyoso yang pernah menjadi tempat networking (acara ospek) jurusan TI setahun yang lalu ini, sekarang telah berubah drastis. Air terjun yang dulunya tidak mengalir, sekarang sudah mengalir. Disamping itu juga sudah dibangung Gazebo dan pavin-pavin disekitar lokasi air terjun. Sungguh semakin indah saja Desa ini.

 

IMG_7504

 

Ketika sampai di lokasi, kami mahasiswa TI’08 dan MATEMATIKA’09 mendapat pengarahan sebentar dari Pak Sutanto selaku dosen pembimbing. Intinya kuliah outdoor itu harus mempunyai program yang jelas, goal (tujuan) yang jelas, Pada pengarahan tersebut kami diberi tugas untuk melakukan survey mengenai penduduk desa Segoro Gunung guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat di desa Segoro Gunung ini. Disamping itu bila dari kami ada ide-ide yang bagus sehubungan dengan pengembangan Desa Segorogunung ini juga sekalian disuruh menuliskannya. Setelah pengarahan, masing-masing kelompok diberi angket survey, kemudian  diberi waktu untuk melakukan survey sampai hari minggu sebelum diadakan evaluasi.

 

Selama semalam kami belum melakukan survey, tetapi melakukan pembahasan mengenai angket yang telah diberikan serta pertanyaan yang akan diajukan kepada warga. Keesokan harinya masing-masing kelompok mulai melakukan survey ke warga-warga.

Dari salah satu warga yang kami survey, Bapak Suyanto menyatakan bahwa meskipun kelihatannya keadaan alam di Desa Segoro Gunung ini indah dan airnya melimpah tetapi banyak hambatan yang dialami oleh Penduduk yang tinggal di Desa ini. Diantaranya

1. Untuk beberapa warga, ada beberapa yang kesulitan mendapatkan air. Pasalnya dengan adanya penggabungan muara sumber air ke air terjun setelah semua kebutuhan warga terhadap air tercukupi, pengaliran air dipindahkan ke air terjun. Namun seringkali ketika warga butuh air itu lagi, air seringkali tidak dialirkan lagi ke tempat warga-warga (terutama di daerah bawah). Sehingga terpaksa warga harus bersusah payah mengambil air langsung dari sumbernya.

2.  Sebagian besar penduduk di Desa Segoro GUnung ini mayoritas bermata pencaharian sebagai petani. tetapi para petani disini tidak dapat menentukan harga jual hasil pertaniannya. Harga jual ditentukan oleh para tengkulak yang menawar hasil pertanian tersebut. Padahal para tengkulak ini mendasarkan penawaran berdasarkan mekanisme pasar yang ada. Jika harga di pasaran turun, maka penawaran para tengkulak terhadap hasil pertanian di desa ini juga diturunkan lagi. Hal tersebut tentunya merugikan para petani di desa ini. Apalagi disamping kendala tersebut, banyak hama yang sering menyerang tanaman para petani disini. Sehingga seringkali petani disini mengalami kerugian

 

Karena hal itulah, banyak juga warga di daerah ini yang pergi merantau guna mencukupi kebutuhan hidupnya.

Melihat hal tersebut perlu diadakan perubahan dalam sistem usaha di Desa Segoro Gunung ini..

seperti melakukan variasi penanaman jenis tanaman yang akan ditanam. Jangan dalam waktu yang sama semuanya menanam jenis tanaman yang sama, yang pada akhirnya ketika hasil panen jenis tanaman tersebut melimpah, tengkulak kemudian menawarnya dengan harga yang sangat murah.

Disamping itu perlu juga dikembangkan makanan khas ataupun oleh-oleh khas dari desa ini, mengingat Desa ini sebentar lagi akan dijadikan wanawisata (wisata alami), sehingga penyediaan oleh-oleh khas desa ini tentunya akan menjadi pemasukan baru bagi masyarakat di desa ini.

 

Minggu, 18 Oktober 2009 pukul 10.00 WIB, dilakukan evaluasi mengenai hasil survey yang dilakukan oleh mahasiswa TI’08 dan MATEMATIKA’09. Dari evaluasi tersebut muncul ide untuk membuat 4 judul PKM (Program Kreatifitas Mahasiswa) terkait dengan Manajemen Harga , Manajemen Destination, Lahan Percontohan, dan Program Koperasi

 

image

Iklan