Mencetak Mahasiswa Produktif dengan Prinsip Wikinomics 

Global WorldEra globalisasi merupakan era dimana pertukaran informasi menjadi sangat mudah dan cepat. Didukung dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih, komunikasi lintas negara menjadi suatu hal yang biasa. Kerjasama internasional semakin mudah dilakukan. Berbanding dengan kemudahan itu, hal-hal negatif juga mudah menyebar.

Mahasiswa sebagai pelopor perubahan, tak luput dari imbas kemajuan teknologi. Banyak mahasiswa di Indonesia yang terlena dengan penggunaan teknologi internet. Ketergantungan akan  internet sangat tinggi. Namun, bukan itu permasalahannya. Kecenderungan akses internet sebagian besar mahasiswa di Indonesia bukan mengakses situs-situs yang dapat meningkatkan pengetahuan dan inovasi mereka, melainkan situs-situs yang kurang bermanfaat. Hal tersebut dapat dilihat dari report google insight tiga bulan terakhir. Akses situs facebook di indonesia masih mendominasi di urutan teratas

Akses situs-situs seperti facebook, download online, games online atau situs lain yang sejenis. Jika hanya mengakses sebentar untuk refreshing atau pelepas lelah tidak masalah. Ironisnya, akses ke situs-situs seperti diatas justru porsinya lebih besar daripada akses situs untuk keperluan peningkatan pengetahuan. Sebagai contoh, karena jenuh searching bahan untuk tugas suatu mata kuliah dengan alasan untuk refreshing sebentar, facebook pun dibuka. Niat awal yang hanya sebentar tadi, hilang sudah tidak terasa. Berjam-jam mengakses situs facebook, chatting dengan teman sana-sini sampai lupa waktu, tugas pun tidak jadi dikerjakan. Otomatis bisa ditebak, output yang dihasilkan tidak maksimal karena tugas hanya dikerjakan asal-asalan.

Kemampuan mahasiswa kita di lapangan kerja juga masih kurang bisa diharapkan. Mahir di teori tetapi lemah dalam praktik. Hal itu terlihat juga di kompetisi internasional, dimana ketika bertanding dalam hal teoritis mahasiswa kita tidak kalah tetapi ketika bagian praktik, mahasiswa kita tidak dapat maksimal. Tak heran jika perusahaan-perusahaan memilih mempekerjakan lulusan SMK dengan gaji yang lebih rendah tetapi kinerja dapat diharapkan (Bataviase, 2010).

Coba kita lihat mahasiswa di belahan negara lain, jepang misalnya. Teori dan praktik relatif berimbang. Namun, ada lagi hal yang menarik. Bagi mereka waktu itu sangat berharga. Jarang ada yang pulang cepat, kalau ada yang pulang lebih cepat dari yang lain berarti dia merupakan orang yang kurang dibutuhkan. Bahkan professor-professor disana sering di lab sampai malam untuk melakukan penelitian setiap harinya (Janupati, 2009).

Kita lihat yang lain lagi, di Eropa misalnya. Kolaborasi lintas ilmu pengetahuan sudah menjadi hal yang biasa. Misalnya para ahli matematika, biologi, kimia, dan IT bekerjasama untuk memecahkan suatu problem tertentu. Metode pembelajaran disana juga lain, tidak sekedar teori tetapi juga diaplikasikan ke realita. Sebagai contoh di akademi bisnis, tugas besarnya adalah mendapatkan keuntungan sesuai yang ditentukan dosen dengan menerapkan teori yang telah disampaikan. Jika tidak memenuhi ketentuan tersebut, mahasiswa dinyatakan tidak lulus. Hal tersebut tentunya  memicu kreativitas dan inovasi mahasiswanya. Sehingga tak heran, jika banyak penemu dan peraih nobel dari sana.

Kembali ke mahasiswa kita, untuk menghadapi era globalisasi dimana ketika pengetahuan kita minimalis, akan sangat mudah dimanfaatkan oleh bangsa lain. Kita harus dapat mengimbangi kemajuan tersebut. Memang Indonesia telah bebas dari penjajahan imperialis dan merdeka.

Namun, sekarang ini muncul bentuk penjajahan baru berupa penjajahan pemikiran dan ekonomi. Sadar atau tidak sadar kita telah banyak terpengaruh oleh gaya dan pemikiran barat. Kepribadian dan budaya bangsa sedikit demi sedikit semakin luntur.

Readmore