Updates from Februari, 2012 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • arifrohmadi 9:15 am on February 28, 2012 Permalink | Balas  

    Teknik Mencatat Efektif 

    Menggunakan mind mapping lebih efektif karena menggabungkan kinerja otak kiri dan otak kanan.

    Intinya adalah kata kunci.

    Metode STPU (Simak – Tulis – Paham – Ulang)

    1. Simak : memerhatikan dengan seksama guru yang menerangkan

    Untuk menjadi pendengar yang baik, diperlukan kemampuan untuk menangkap isi pembicaraan yang terkandung di dalam penyampaian masalah oleh pembicara:

    a. Menemukan gambaran yang tepat mengenai bahan yang diungkapkan pembicara

    b. Menerapkan hal-hal yang dijelaskan

    c. Mengevaluasi pokok-pokok pandangan dan gagasan yang relevan dengan kebutuhan kita

    d. Mengikuti alur uraian setepat mungkin.

    e. Menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari perkembangan masalah yang berkaitan

    f. Menikmati hal-hal yang menyenangkan dari bahan yang disampaikan

    Aktifkan filter mental saat mengikuti pelajaran :

    – PEMETAAN

    – MEMBUAT KATEGORI

    – KATA KUNCI

    – PERTANYAAN

    Pintar memilih tempat duduk

    Mendengar aktif, kritis, aktif dan mempertanyakan

    Ingat ABDKM (Apa, Bagaimana, Dimana, Kapan, Mengapa)

    2. Tulis: Tangkap kata-kata penting

    3. Paham: Meninjau, menanggapi, dan mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan penjelasan guru bila perlu

    – Paham lebih penting daripada hafal.

    – Buat catatan yang sederhana tetapi mengena

    – Buat catatan garis besar dari buku text

    – Membuat refleksi di catatan

    – Be more active

    – Gunakan perasaan supaya lebih paham

    – Buat catatan besar atau poster dan tempelkan di dinding

    – Buat catatan perkembangan diri

    4. Ulang: Memutar kembali “REkaman Kejadian” saat guru menerangkan

    a. Bila tidak tertarik dengan suatu pelajaran, kaitkan dengan sesuatu yang menarik perhatianmu.

    b. Setiap malam sediakan waktu 5 menit setiap hari untuk membaca ulang catatan pokok yang telah dibuat.

    Ingat :

    – Tinjau ulang catatan secara teratur

    – Lakukan lagi pada pagi hari, sekali lagi seminggu kemudian, dan sekali lagi sebulan kemudian

    – Lalu tinjau ulang dan tambah data lain yang berhubungan

    c. Mengulang dengan cepat

    d. Pandai meninjau topic (Topik ini untuk apa?, mengapa topic ini penting?)

    e. Menulis ulang catatan membuat lebih ingat.

    f. Lakukan revisi

    g. Berusaha menerangkan kembali

    Contoh Catatan Efektif berkonsep MindMap:

    Source: Teknik Mencatat Femi Olivia

     
    • isni 6:48 am on Oktober 22, 2012 Permalink | Balas

      Catatannya bagus mba, boleh tau ndak refrensi apa saja yang mba pakai?
      Saya sedang skripsi dan pake metode mind map tapi masih kesulitan refrensinya. kalau ndak keberatan sent ke email saya noel.isnee@gmail.com,. makasih

      • arifrohmadi 10:21 am on Oktober 22, 2012 Permalink | Balas

        hehe, maaf saya mas bukan mbak..itu udah tercantum, saya sumbernya pake dari buku teknik mencatat-Femi Olivia

    • yovi 7:23 pm on Januari 19, 2014 Permalink | Balas

      kukilo

  • arifrohmadi 11:45 pm on February 11, 2012 Permalink | Balas  

    Menjadi Mahasiswa Produktif dengan Prinsip Wikinomics 

    Era globalisasi merupakan era dimana pertukaran informasi menjadi sangat mudah dan cepat. Didukung dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih, komunikasi lintas negara menjadi suatu hal yang biasa. Kerjasama internasional semakin mudah dilakukan. Berbanding dengan kemudahan itu, hal-hal negatif juga mudah menyebar.

    Mahasiswa sebagai pelopor perubahan, tak luput dari imbas kemajuan teknologi. Banyak mahasiswa di Indonesia yang terlena dengan penggunaan teknologi internet. Ketergantungan akan internet sangat tinggi. Namun, bukan itu permasalahannya. Kecenderungan akses internet sebagian besar mahasiswa di Indonesia bukan mengakses situs-situs yang dapat meningkatkan pengetahuan dan inovasi mereka, melainkan situs-situs yang kurang bermanfaat. Hal tersebut dapat dilihat dari report google insight tiga bulan terakhir. Akses situs facebook di indonesia masih mendominasi di urutan teratas

    clip_image002.

    Google insight, diambil 26 Mei 2011

    Akses situs-situs seperti facebook, download online, games online atau situs lain yang sejenis. Jika hanya mengakses sebentar untuk refreshing atau pelepas lelah tidak masalah. Ironisnya, akses ke situs-situs seperti diatas justru porsinya lebih besar daripada akses situs untuk keperluan peningkatan pengetahuan. Sebagai contoh, karena jenuh searching bahan untuk tugas suatu mata kuliah dengan alasan untuk refreshing sebentar, facebook pun dibuka. Niat awal yang hanya sebentar tadi, hilang sudah tidak terasa. Berjam-jam mengakses situs facebook, chatting dengan teman sana-sini sampai lupa waktu, tugas pun tidak jadi dikerjakan. Otomatis bisa ditebak, output yang dihasilkan tidak maksimal karena tugas hanya dikerjakan asal-asalan.

    Kemampuan mahasiswa kita di lapangan kerja juga masih kurang bisa diharapkan. Mahir di teori tetapi lemah dalam praktik. Hal itu terlihat juga di kompetisi internasional, dimana ketika bertanding dalam hal teoritis mahasiswa kita tidak kalah tetapi ketika bagian praktik, mahasiswa kita tidak dapat maksimal. Tak heran jika perusahaan-perusahaan memilih mempekerjakan lulusan SMK dengan gaji yang lebih rendah tetapi kinerja dapat diharapkan (Bataviase, 2010).

    Coba kita lihat mahasiswa di belahan negara lain, jepang misalnya. Teori dan praktik relatif berimbang. Namun, ada lagi hal yang menarik. Bagi mereka waktu itu sangat berharga. Jarang ada yang pulang cepat, kalau ada yang pulang lebih cepat dari yang lain berarti dia merupakan orang yang kurang dibutuhkan. Bahkan professor-professor disana sering di lab sampai malam untuk melakukan penelitian setiap harinya (Janupati, 2009).

    Kita lihat yang lain lagi, di Eropa misalnya. Kolaborasi lintas ilmu pengetahuan sudah menjadi hal yang biasa. Misalnya para ahli matematika, biologi, kimia, dan IT bekerjasama untuk memecahkan suatu problem tertentu. Metode pembelajaran disana juga lain, tidak sekedar teori tetapi juga diaplikasikan ke realita. Sebagai contoh di akademi bisnis, tugas besarnya adalah mendapatkan keuntungan sesuai yang ditentukan dosen dengan menerapkan teori yang telah disampaikan. Jika tidak memenuhi ketentuan tersebut, mahasiswa dinyatakan tidak lulus. Hal tersebut tentunya memicu kreativitas dan inovasi mahasiswanya. Sehingga tak heran, jika banyak penemu dan peraih nobel dari sana.

    Kembali ke mahasiswa kita, untuk menghadapi era globalisasi dimana ketika pengetahuan kita minimalis, akan sangat mudah dimanfaatkan oleh bangsa lain. Kita harus dapat mengimbangi kemajuan tersebut. Memang Indonesia telah bebas dari penjajahan imperialis dan merdeka. Namun, sekarang ini muncul bentuk penjajahan baru berupa penjajahan pemikiran dan ekonomi. Sadar atau tidak sadar kita telah banyak terpengaruh oleh gaya dan pemikiran barat. Kepribadian dan budaya bangsa sedikit demi sedikit semakin luntur.

    Perlu adanya upaya untuk menghadapi era globalisasi ini. Kita sebagai mahasiswa perlu bangkit dan sadar. Kita harus kreatif dan inovatif. Mengurangi kegiatan-kegiatan yang kurang bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan SDM kita. Kita lihat mahasiswa-mahasiswa di negara lain. Mereka dapat berinovasi dan menelurkan banyak karya. Padahal waktu yang mereka miliki sama seperti kita yaitu 24 jam.

    Apakah kita tidak malu, ketika kopi-kopi yang di jual di starbuck dengan harga mahal, tenyata bahannya berasal dari Indonesia. Ketika ada yang membutuhkan ikan sidat dalam jumlah besar, mereka memesan lewat sebuah portal di belanda. Padahal, ikan sidat itu banyak ditemukan di Indonesia, mereka justru tidak langsung memesan ke kita.

    Melihat kenyataan itu, kita harus segera sadar. Selagi masih muda mari kita manfaatkan untuk melakukan hal-hal yang positif dan bermanfaat untuk orang banyak. Manfaatkan waktu semaksimal mungkin, buat schedule dan target yang ingin dicapai. Belajar untuk berpikir kritis dan kreatif. Lihat suatu permasalahan dengan sudut pandang yang lain, sehingga diperoleh suatu solusi yang tepat dan cepat. Setelah itu dikolaborasikan dengan 4 prinsip wikinomics, prinsip terkenal untuk kolaborasi massal yang dicetuskan oleh Don Tapscott dan Anthony Williams, yaitu :

    Openness (Keterbukaan), prinsip keterbukaan. Terbuka dengan orang lain, terbuka untuk perubahan yang lebih baik.

    Peering (Kerjasama), membentuk sebuah group dimana saling dapat mendukung satu sama lain dan dapat saling kerjasama. Misalnya karena susah dalam presentasi, maka dibentuk group untuk latihan presentasi dimana didalam group tersebut saling berlatih bersama untuk mengembangkan skill presentasi.

    Sharing (Berbagi), yaitu dengan saling berbagi. Dengan berbagi, bukannya berkurang tetapi akan semakin bertambah pengetahuan, karena nanti ketika ada kekurangan akan ada saran atau kritik dari yang lain.

    Act Globally (Bertindak Global), menjalin network dengan internasional sehingga kedepannya dapat saling bekerjasama.

    Dengan menerapkan 4 prinsip tersebut ditambah manajemen waktu dan pengoptimalan kemampuan, kreativitas, dan inovasi diri, maka persaingan global bukan hal yang menakutkan. Jika dari pemudanya sudah dapat berkembang dan membuat perubahan yang berarti, maka negara dan masyarakat akan turut terpengaruh bergerak produktif mewujudkan indonsia semakin berkembang dan maju.

    Referensi :

    Bataviase. 2010. Lulusan Sarjana Terpaksa Bersaing dengan SMK. http://bataviase.co.id/node/153256. [27 Mei 2011]

    Google Insight. 2011. Minat Penelusuran Web Indonesia 90 hari terakhir.

    [26 Mei 2011]

    Janupati, Ferry. 2009. Rahasia Sukses Bangsa Jepang. http://hara-juku.com/index.php/harajuku-info/69-resep-sukses-bangsa-jepang/.

    [27 Mei 2011]

    Tapscott, Don & Williams, Anthony D. 2006. Wikinomics: How Mass Collaboration Changes Everything. New York: Penguin Group

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal