Updates from Desember, 2013 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • arifrohmadi 11:57 pm on December 22, 2013 Permalink | Balas  

    Kisah Perjalanan Felix Siauw Mencari Tuhan 

    ustadz-felix-siauw

    Saya lahir dari keluarga Cina yang besar di Palembang. Pada waktu itu, orang-orang Cina diharuskan untuk memilih salah satu agama yang ditetapkan oleh negara dan kebanyakan mereka memilih katolik. Mereka sangat awam dengan Islam, dan bahkan mereka memandang jelek agama Islam tersebut. Dari dulu, orang-orang Cina berpikiran bahwa Islam bertentangan dengan agama mereka. Kebanyakan dari mereka menerapkan kepada keluarga, anak dan cucu mereka bahwa boleh beragama apa saja, asalkan tidak Islam. Nenek saya contohnya, beliau berpesan bahwa, “Kamu boleh beragama apa saja asal jangan Islam.”

    Saya tumbuh dalam pemahaman seperti itu, maka tak heran jika saya juga memiliki pikiran yang sama dengan mereka. Islam pribumi itu kehidupannya berantakan, agama barbar dan sebagainya, itulah yang saya pikirkan. Sampai ketika SMP kelas 3, ketika saya masih bersekolah di sekolah Katolik, saya mendapatkan sesuatu yang tidak beres dan tidak masuk akal. Sebut saja trinitas, penebusan dosa dan sebagainya. Hal itu kemudian tidak memuaskan akal saya. Saya lalu banyak bertanya kepada keluarga, bahkan pendeta, pastur dan sebagainya.

    Namun sayang sekali mereka tak bisa memberikan sebuah pencerahan dan penjelasan yang memuaskan. Saya semakin tidak mengerti ketika mereka menjelaskan bahwa Tuhan itu tiga dalam satu. Lalu saya bertanya “Terus yang menciptakan kita siapa ? Bapa, putra atau roh kudus ? Dan lagi jika memang Yesus itu Tuhan, mengapa dia harus memanggil Tuhan yang lain sebelum mati di kayu salib ?”

    Keraguan saya semakin bertambah ketika saya banyak membaca Alkitab. Saya menemui kenyataan bahwa Tuhan banyak berbohong disana. Contoh, ketika di surga pertama-tama Tuhan mengatakan “Jangan makan buah ini, jika engkau makan kau akan mati.” Ternyata setelah mereka memakan buah itu, mereka tidak mati. Mereka malah punya pengetahuan, mereka malah mengetahui yang baik dan yang buruk. “Masak Tuhan berbohong” begitu pikir saya.

    Konsep-konsep inilah yang banyak saya tanyakan kepada pastur dan pendeta. Namun mereka hanya menjawab “Ya itulah iman”. Berkali-kali saya bertanya, namun tetap saya mendapat jawaban yang sama. Mereka menjelaskan bahwa iman adalah tidak boleh banyak bertanya. Karena dalam beberapa hal dalam keimanan yang tidak bisa ditangkap oleh nalar. Sampai disana saya berpikir, lalu apa gunanya saya terus belajar tentang agama Katolik ?

    Ketika SMP kelas 3, secara fungsional keluar dari agama Katolik. Saya tidak pernah ke gereja lagi, saya juga tidak ikut ibadah, walaupun KTP saya masih agama Katolik. Saya kemudian terus mencari jawaban itu, dimana asal Tuhan, siapa yang menciptakan, setelah mati manusia akan kemana dan sebagainya. Saya mencari ke semua agama. Dari Kristen Protestan, Budha, Hindu, dll. Namun saya tidak mendapatkannya.

    Setelah 5 tahun kemudian, saya akhirnya mencari konsep tersebut di Islam. Ketika saya di IPB, saya bertemu dengan salah seorang teman. Saya banyak berdiskusi dengan dia, dan mempertanyakan kembali tentang pertanyaan-pertanyaan hidup yang saya punya dulu. Saya dikenalkan dengan seorang ustadz. Beliau masih sangat muda, namun kalimat-kalimatnya sangat penuh hikmah. Saya mendapatkan pencerahan Islam yang sesungguhnya, yang sebenar-benarnya. Bukan seperti Islam yang kebanyakan dilakukan oleh manusia modern seperti sekarang ini.

    Ketika suatu malam, saat kami berdiskusi, kami sama-sama menyimak bacaan Alquran surat Al Baqarah ayat ke 2 yang artinya “Kitab ini tidak ada keraguan, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” Saya katakan ini tidak mungkin, karena ketika ada kata sempurna berarti tidak akan ada kesalahan, kebimbangan dsb. Saya katakan lagi, ini buatan manusia jadi tidak mungkin”.

    Beliau menjawab, “Tidak, Alquran ini bukan buatan manusia, Kitab ini buatan Tuhan. Disini ada buktinya”. Setelah itu dibacakanlah tentang surab Al Baqarah ayat 23 “Dan jika kamu meragukan (Al Qur’an) yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surat semisal dengannya, dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar”.

    Hal itu benar-benar memukul kepala saya. Seakan-akan ada yang berkata kepada saya “Jika kamu memang benar, nggak usah banyak ngomong, tandingin aja deh. Buat yang sama dengan Al Qur’an. Jika kamu lebih baik, maka Al-Qur’an kalah, dan Islam ikut kamu. Kalau Kamu nggak bisa, ya udah kamu kudu nurut dan masuk islam.” itu sangat fair buat saya.

    Setelah itu saya lihat ayat selanjutnya, ayat 24 yang artinya “Jika kamu tidak mampu membuatnya, dan (pasti) tidak akan mampu, maka takutlah kamu akan api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir.” Dari sana saya tahu jika ayat itu begitu tegas dan jelas. Saya jadi yakin, bahwa yang membuat Al-Qur’an benar-benar Tuhan Semesta Alam, dari sanalah akhirnya saya memutuskan untuk beriman pada Islam.

    Reaksi awal keluarga saya, pastilah merasa kaget, karena seperti yang saya ceritakan di awal tadi, mereka tidak mengharapkan dan paling takut anaknya terpengaruh dengan Islam. Selama tiga tahun terakhir, saya terus berjuang agar mereka juga bisa mengimani Islam. Walaupun sampai sekarang belum ada diantara mereka yang memutuskan menjadi seorang muslim, namun saya masih terus berharap, suatu saat Allah akan mendatangkan hidayah untuk mereka.

    Setelah menjadi mualaf, saya benar-benar merasa tenang. Ketika saya mensujudkan kepala pertama kali, saya merasa sangat terharu. Saya merasa bertambah yakin jika memang inilah Tuhan yang seharusnya kita sembah.

    Jujur, kadang saya juga merasa gregetan, saat melihat banyak orang Islam sekarang yang tidak mengetahui Islam yang sebenar-benarnya. Seakan-akan di depan mereka, ada air jernih dan air comberan yang kotor. Namun banyak dari mereka yang meminum air yang kotor tersebut. Padahal Islam adalah yang paling sempurna, namun banyak dari mereka yang tidak mengerti, dan tidak berusaha untuk mencari ilmunya. Mereka meninggalkan sistem sebuah agama yang benar-benar sempurna, namun mereka tidak mengambil itu. Maka dari itu saya tergerak agar muslim-muslim yang lain juga tahu tentang Islam yang sebenar-benarnya.

    Kini saya banyak menghabiskan waktu untuk berdakwah. Walaupun banyak cobaan yang bahkan justru datang di kalangan orang Islam sendiri, saya berusaha untuk tetap teguh berada di jalan Allah. Saya yakin Allah akan selalu menyertai saya, selama saya mau untuk ikhlas melakukan semuanya karena Allah.

    Referensi : Hadila Magazine

     
    • Johne722 11:27 am on September 9, 2014 Permalink | Balas

      Howdy! I basically would like to give a huge thumbs up for the good data you’ve got here on this post. I will probably be coming once again to your weblog for far more soon. fcedffbedekc

    • Johng890 11:28 am on September 9, 2014 Permalink | Balas

      Thanks for this article. I’d also like to express that it can often be hard if you are in school and simply starting out to initiate a long credit standing. There are many students who are just trying to endure and have an extended or favourable credit history are often a difficult matter to have. dgagdbagcddk

  • arifrohmadi 3:17 am on April 1, 2013 Permalink | Balas  

    10 Karakter Muslim/Muslimah Sejati 

    1. Salimul Aqidah, Bersih Akidahnya dari sesuatu hal yang mendekatkan dan menjerumuskan dirinya dari lubang syirik.
    2. Shahihul Ibadah, Benar Ibadahnya menurut AlQur’an dan Assunnah serta terjauh dari segala Bid’ah yang dapat menyesatkannya.
    3. Matinul Khuluq, Mulia Akhlaknya sehingga dapat menunjukkan sebuah kepribadian yang menawan dan dapat meyakinkan kepada semua orang bahwa Islam adalah rahmat bagi seluruh alam (Rahmatan Lil Alamin).
    4. Qowiyul Jismi, Kuat Fisiknya sehingga dapat mengatur segala kepentingan bagi jasmaninya yang merupakan amanah/titipan dari Allah SWT.
    5. Mutsaqoful Fikri, Luas wawasan berfikirnya sehingga dia mampu menangkap berbagai informasi serta perkembangan yang terjadi disekitarnya.
    6. Qodirun ‘alal Kasbi, Mampu berusaha sehingga menjadikannya seorang yang berjiwa mandiri dan tidak mau bergantung kepada orang lain dalam memenuhi segala kebutuhan hidupnya.
    7. Mujahidun linafsihi, Bersungguh sungguh dalam jiwanya sehingga menjadikannya seseorang yang dapat memaksimalkan setiap kesempatan ataupun kejadian sehingga berdampak baik pada dirinya ataupun orang lain.
    8. Haritsun ‘ala waqtihi, Efisien dalam memanfaatkan waktunya sehingga menjadikannya sebagai seorang yang pantang menyiakan waktu untuk melakukan kebaikan, walau sedetikpun. karena waktu yang kita gunakan selama hidup ini akan dipertanggungjawabkan dihadapan Alloh SWT.
    9. Munazhom Fii Su’unihi, Tertata dalam urusannya sehingga menjadikan kehidupannya teratur dalam segala hal yang menjadi tanggung jawab dan amanahnya. Dapat menyelesaikan semua masalahnya dengan baik dengan cara yang baik.
    10. Naafi’un Li Ghairihi, Bermanfaat bagi orang lain, sehingga menjadikannya seseorang yang bermanfaat dan dibutuhkan. Keberadaannya akan menjadi sebuah kebahagiaan bagi orang lain dan ketiadaannya akan menjadikan kerinduan pada orang lain.

    [Hasan Al Bana]

     
  • arifrohmadi 4:15 am on March 30, 2013 Permalink | Balas  

    Puisi Udah Putusin Aja 

    cinta itu memikirkan yang dicintai
    bukan hanya kemarin dan kini, tapi nanti
    mari kita berbicara tentang masa depan, agar hari esok yg dijelang bukan suatu kesengsaraan
    ada hal yg jelas harus dipersiapkan mana yg boleh dilakukan dan mana yg harus dihindarkan

    bila engkau lelaki, engkau harus tau arah saat melangkah
    bila engkau perempuan, seharusnya tau bagaimana bertingkah
    kita bicara masa depan karena ia tidak semudah yang diperkirakan pemuda-pemuda yang lalai
    juga tidak sesulit yang diceritakan perempuan-perempuan yang bercerai

    setiap muslimah tentu saja menginginkan lelaki yang bertanggungjawab,
    yang menghargai kelebihan kebaikannya, dan yang memaafkan kealpa-an kekurangannya

    muslimah mana yang tidak ingin lelaki berbudi pekerti, baik hati, tinggi iman, dan lurus amal
    muslimah selalu menanti lelaki elok akhlak padan rasa, yang memiliki kelembutan dengan anaknya, dengan istrinya dia mesra.
    muslimah mana yang tidak mendambakan lelaki yang bisa mengawalnya jauh dari neraka dan membimbingnya menuju surga Allah

    lelaki mana yang tidak suka dengan wanita yang cerdik cendekia lagi berparas menawan, yang lisannya seanggun geraknya..
    lelaki yang baik pasti menyukai wanita lemah lembut lagi santun, pintar membahagiakan suami dengan masakan dan perhatian..
    tidak tamak harta dan selalu menjaga kehormatan..
    lelaki mana yang tidak memimpikan wanita yang mendukungnya dalam kebaikan dan mengeluarkan kebaikannya, dirindukan bila ditinggal dan menyenangkan bila berjumpa

    sialnya kita hidup di zaman kapitalisme yang mengajarkan lelaki dan wanita masa kini utk memperhatikan fisik bukan isi,perhatikan badan bukan iman..
    kapitalisme sukses menjadikan kebahagiaan materialistis sebagai tujuan tertinggi,
    maka hedonisme anak kandung kapitalisme, sukses menjadikan lelaki hanya peduli nikmat sampai batas kulit..
    wajar bila kita melihat dimana-mana lelaki jadi miskin tanggungjawab dan fakir komitmen..
    bila lelaki yg tidak lulus ujian tanggungjawab dan komitmen, merekalah yg akhirnya masuk dalam jurusan pacaran..

    cinta disempitkan dalam arti pacaran, terbatas pada rayuan palsu dan gandengan tangan.
    padahal pendamping yg saleh tiada pernah didapatkan dari proses pacaran.
    karena kesalehan dan kebatilan jelas bertentangan.
    hak dan batil tidak akan pernah bertemu bagaikan fatamorgana yg janjikan kemuliaan semu.
    bagaimana bisa lelaki yg sudah memahami pacaran itu perbuatan yg dilarang oleh Allah memaksa dengan berbagai alasan agar engkau berbagi dosa dengan dia melawan Allah, lalu yg seperti ini bisa jadi panduan setelah menikah ?

    sebelum halal saja dia sudah berani katakan sayang kepadamu, jangan heran bila setelah dia menikah, dia berani katakan itu pada wanita-wanita yg lain, toh sama-sama bermaksiat pada Allah.
    jika sebelum akad saja ia sudah berani melabuhkan tangannya pada tubuhmu, jangan heran bila setelah menikah ia mampu lakukan itu pada wanita-wanita yang lain, toh sama-sama dosa pada Allah

    yang tiada takut dosa saat sebelum menikah, tentunya jangan harap ia takut dosa setelah menikah

    ~Ust.Felix Siauw

     

     
  • arifrohmadi 1:06 pm on December 12, 2012 Permalink | Balas  

    Nasihat Luqman terhadap Anaknya 

    Luqman adalah tokoh orang tua yang bijak dalam mendidik anak yang diabadikan dalam Al-Qur’an, Beberapa nasihat beliau diantaranya:

    1. Anakku ; jauhilah SYIRIK, karena itu akan mematikan hati menimbulkan MURKA Allah.
    2. Anakku ; janganlah berjalan di muka bumi dengan SOMBONG, karena itu akan menghancurkanmu.
    3. Anakku ; BERSYUKURLAH kepad Allah dan kepada kedua orang tuamu, karena Allah yang telah menciptakanmu dan orang tuamulah yang melahirkan, membesarkan dan mendidikmu.
    4. Anakku ketahuilah sesungguhnya DUNIA BAGAIKAN LAUT YANG DALAM, banyak yang karam kedalamnya bila engkau ingin selamat, agar jangan karam, layarilah lautan itu dengan sampan yang bernama taqwa, isinya ialah iman dan layarnya adalah tawakkal kapada Allah.
    5. Orang yang senantiasa MENYEDIAKAN DIRINYA untuk MENERIMA NASEHAT, maka dirinya akan mendapatkan penjagaan dari Allah. Orang yang insyaf dan sadar setelah menerima nasihat orang lain, dia kan senantiasa menerima kemuliaan dari Allah juga.
    6. Orang yang MERASA DIRINYA HINA DAN RENDAH dalam beribadah dan taat kepada Allah, jadilah ia tawadhu’ kepada Allah, dia akan lebih dekat dengan Allah dan selalu berusaha menghindarkan ma’siat kepada-Nya.
    7. Hai anakku ; seandainya orang tuamu marah kapadamu karena kesalahanmu maka MARAHNYA ORANG TUA itu adalah bagaikan PUPUK bagi tanaman.
    8. JAUKANLAH dirimu dari BERHUTANG, karena berhutang itu menjadikan dirimu hina diwaktu siang dan gelisah diwaktu malam.
    9. Senantiasalah BERHARAP kapada Allah tentang sesuatu yang menyebabkan untuk tidak mendurhakai Allah. Takutlah kapada Allah dengan sebenar-benarnya takut, tentulah engkau akan lepas dari sifat keputusasaan dari Rahmat-Nya.
    10. Hai anakku ; seorang PENDUSTA akan lekas hilang air mukanya karena tidak dipercyai orang dan seorang yang telah bejat akhlaqnya akan senantiasa banyak melamunkan hal-hal yang tidak benar. Ketahuilah, memindahkan batu besar dari tempatnya semula itu lebih mudah daripada memberi pengertian kepada orang yang tidak mau mengerti.
    11. Hai anakku ; engkau telah merasaan betapa beratnya mengangkat batu besar dan besi yang amat berat, tetapi akan lebih berat lagi dari pada itu semua adalah bilamana engkau mempunya TETANGGA YANG JAHAT.
    12. Hai anakku ; janganlah sekali-kali engkau mengirimkan seseorang yang BODOH menjadi utusan. Maka bila tidak ada orang yang cerdas dan pintar, sebaiknya dirimu sendirilah yang menjadi utusan.
    13. JAUHILAH SIFAT DUSTA, sebab berdusta itu enak sekali mengerjakannya, bagaikan memakan daging burung, padahal sedikit saja berdusta itu telah memberikan akibat yang berbahaya.
    14. Hai anakku ; bila engkau menghadapi dua alternative ta’ziyah orang mati ataukah menghadiri pesta perkawinan maka hendaklah engkau memilih untuk MELAYAT ORANG MATI, sebab melayat orang mati itu akan mengingatkanmu pada kampung akhirat, sedangkan menghadiri pesta perkawinan itu akan mengingatkanmu kesenangan duniawi saja.
    15. Janganlah engkau makan sampai KENYANG YANG BERLEBIHAN, karena sesungguhnya makan yang terlalu kenyang itu alangkah lebih baiknya bila diberikan kepada anjing saja.
    16. Hai anakku ; janganlah kamu langsung menelan saja karena manisnya barang dan janganlah kamu langsung memuntahkan barang karena pahitnya. Karena YANG MANIS BELUM TENTU MENIMBULKAN KESEGARAN, dan YANG PAHIT ITU BELUM TENTU MENIMBULKAN KEGETIRAN.
    17. MAKANLAH makananmu bersama-sama dengan ORANG YANG TAQWA dan MUSYAWARAHKANLAH urusanmu dengan para ALIM ULAMA dengan cara memohon nasihat kepadanya.
    18. Hai anakku ; bukanlah suatu kebaikan namanya bilamana engkau selalu mencri ilmu namun engkau tidak mengamalkanya. Hal itu tak ubahnya bagaikan seorang yang mencari kayu bakar, banyak terkumpul maka ia tidak kuat memikulnya tetapi ia masih selalu menambahnya juga.
    19. Hai anakku ; bila engkau ingin menemukan KAWAN SEJATI, maka ujilah dahulu dengan membuat dia MARAH bila dalam kemarahanya itu dia masih berusaha menginsyafkan atau menyadarkan kamu, maka bolehlah dia engkau ambil sebagai kawan. Bila tidak demikian maka berhati-hatilah engkau terhadapnya.
    20. Selalulah BAIK TUTUR KATAMU dan HALUS BUDI BAHASAMU serta MANIS WAJAHMU, karena engkau akan disukai orang melebihi sukanya seseorang terhadap orang lain yang pernah memberikan barang berharganya.
    21. Hai anakku ; bila engkau BERTEMAN, tempatkan dirimu padanya sebagai orang yang TIDAK MENGHARAPKAN SESUATU DARIPADANYA namun BIARKAN DIA YANG MENGHARAPKAN SESUATU DARIMU.
    22. Jadikanlah dirimu dalam segala perilakumu sebagai orang yang TIDAK INGIN MENERIMA PUJIAN atau orang yang mengharapkan sanjungan orang lain, karena motivasi riya/pamrih itu menimbulkan CELA dan MENGECEWAKAN DIRIMU.
    23. Hai anakku ; usahakanlah agar mulutmu jangan sampai mengeluarkan kat-kata yang busuk dan kotor serta kasar, karena engkau akanLEBIH SELAMAT BILA BERDIAM DIRI. Kalu berbicara usahakanlah agar bicaramu mendatangkan kemanfaatan bagi orang lain.
    24. Hai anakku ; janganlah engkau CONDONG KEPADA URUSAN DUNIA dan hatimu selalu direpotkan dunia saja karena engkau diciptakan kedunia bukanlah untuk dunia saja. Sesungguhnya tak ada makhluk yang paling hina dari pada orang yang terpedaya oleh dunia.
    25. Hai anakku ; janganlah engkau mudah tertawa kalau bukan karena sesuatu yang menggelikan, engkau berjalan tanpa tujuan pasti, janganlah engkau menanyakan sesuatu yang tidak ada gunanya bagimu, janganlah menyia-nyiakan hartamu.
    26. Barang siapa yang PENYAYANG AKAN DISAYANG, barang siapa pendiam tentu akan selamat dari berkata yang mengandung racun, dan barang siapa yang tidak bisa menahan lidahnya dari berkata kotor tentulah akan menyesal.
    27. Hai anakku ; BERGAULAH RAPAT engkau dengan orang ULAMA dan ILMUWAN, perhatikanlah nasihat dan perkataanya karena sesungguhnya sejuklah hati ini mendengarkan nasihatnya hiduplah hati ini dengan cahaya hikmah dari mutiara kata-katanya bagaikan tanah yang subur tersiram air hujan.
    28. Hai anakku ; AMBILAH DUNIA SEKEDAR KEPERLUANMU, dan nafkahkanlah yang selebihnya untuk bekal akhiratmu. Janganlah kau tendang dunia ini ke keranjang sampah karena nanti engkau akan menjadi pengemis yang membuat beban orang lain. Sebaliknya jangan engkau peluk dunia ini serta merengguk habis airnya karena sesungguhnya yang engkau makan dan pakai itu adalah tanah belaka.

    Sumber: Catatan Sahabat

     
  • arifrohmadi 1:05 pm on November 11, 2012 Permalink | Balas  

    Akibat Berbuat Maksiat 

    22 Akibat Berbuat Maksiat yang dapat dirasakan secara langsung oleh setiap diri manusia:

    1. Maksiat Menghalangi Ilmu Pengetahuan

    Ilmu adalah cahaya yang dipancarkan ke dalam hati. Namun, kemaksiatan dalam hati dapat menghalangi dan memadamkan cahaya tersebut. Ketika Imam Malik melihat kecerdasan dan daya hafal Imam Syafi’i yang luar biasa, beliau (Imam Malik) berkata, "Aku melihat Allah telah menyiratkan cahaya di hatimu, wahai anakku. Janganlah engkau padamkan cahaya itu dengan maksiat.

    2. Maksiat Menghalangi Rizki

    Jika ketakwaan adalah penyebab datangnya rizki. Maka meninggalkannya berarti menimbulkan kefakiran. "Seorang hamba dicegah dari rezeki akibat dosa yang diperbuatnya" (HR. Ahmad)

    3. Maksiat Menimbulkan Jarak Dengan Allah

    Diriwayatkan ada seorang laki-laki yang mengeluh kepada seorang arif tentang kesunyian jiwanya. Sang arif berpesan, "Jika kegersangan hatimu akibat dosa-dosa, maka tinggalkanlah (perbuatan dosa itu). Dalam hati kita, tak ada perkara yang lebih pahit daripada kegersangan dosa diatas dosa."

    4. Maksiat Menjauhkan Pelakunya dengan Orang Lain

    Maksiat menjauhkan pelakunya dari orang lain, terutama dari golongan yang baik. Semakin berat tekanannya, maka semakin jauh pula jaraknya hingga berbagai manfaat dari orang yang baik terhalangi. Kesunyian dan kegersangan ini semakin menguat hingga berpengaruh pada hubungan dengan keluarga, anak-anak dan hati nuraninya sendiri. Seorang salaf berkata, "Sesungguhnya aku bermaksiat kepada Allah, maka aku lihat pengaruhnya pada perilaku binatang (kendaraan) dan istriku."

    5. Maksiat Menyulitkan Urusan

    Jika ketakwaan dapat memudahkan segala urusan, maka pelaku maksiat akan menghadapi kesulitan dalam menghadapi segala urusannya. Maksiat Menggelapkan Hati Ketaatan adalah cahaya, sedangkan maksiat adalah gelap gulita. Ibnu Abbas ra berkata, "Sesungguhnya perbuatan baik itu mendatangkan kecerahan pada wajah dan cahaya pada hati, kekuatan badan dan kecintaan. Sebaliknya, perbuatan buruk itu mengundang ketidakceriaan pada raut muka, kegelapan di dalam kubur dan di hati, kelemahan badan, susutnya rizki dan kebencian makhluk."

    6. Maksiat Melemahkan Hati dan Badan

    Kekuatan seorang mukmin terpancar dari kekuatan hatinya. Jika hatinya kuat maka kuatlah badannya. Tapi bagi pelaku maksiat, meskipun badannya kuat, sesungguhnya dia sangat lemah jika kekuatan itu sedang dia butuhkan, hingga kekuatan pada dirinya sering menipu dirinya sendiri. Lihatlah bagaimana kekuatan fisik dan hati kaum muslimin yang telah mengalahkan kekuatan fisik bangsa Persia dan Romawi.

    7. Maksiat Menghalangi Ketaatan

    Orang yang melakukan dosa dan maksiat akan cenderung untuk memutuskan ketaatan. Seperti selayaknya orang yang satu kali makan tetapi mengalami sakit berkepanjangan dan menghalanginya dari memakan makanan lain yang lebih baik.

    8. Maksiat Memperpendek Umur dan Menghapus Keberkahan

    Pada dasarnya, umur manusia dihitung dari masa hidupnya. Sementara itu tak ada yang namanya hidup kecuali jika kehidupan itu dihabiskan dengan ketaatan, ibadah, cinta dan dzikir kepada Allah serta mementingkan keridhaan-Nya.

    9. Maksiat Menumbuhkan Maksiat Lain

    Seorang ulama Salaf berkata, bahwa jika seorang hamba melakukan kebaikan, maka hal tersebut akan mendorong dia untuk melakukan kebaikan yang lain dan seterusnya. Dan jika seorang hamba melakukan keburukan, maka dia pun akan cenderung untuk melakukan keburukan yang lain sehingga keburukan itu menjadi kebiasaan bagi si pelaku.

    10. Maksiat Mematikan Bisikan Hati Nurani

    Maksiat dapat melemahkan hati dari kebaikan dan sebaliknya akan menguatkan kehendak untuk berbuat maksiat yang lain. Maksiat pun dapat memutuskan keinginan untuk bertobat. Inilah yang akan menjadi penyakit hati yang paling besar.

    11. Menghilangkan Keburukan Maksiat Itu Sendiri dan Memudahkan Dosa

    Jika orang sudah biasa berbuat maksiat, maka ia tidak lagi buruk memandang perbuatan itu, sehingga maksiat itu menjadi adat kebiasaan. Ia pun tidak lagi mempunyai rasa malu melakukannya, bahkan memberitakannya kepada orang lain tentang perbuatannya itu. Dosa yang dilakukannya dianggapnya ringan dan kecil. Padahal dosa itu adalah besar di mata Allah swt.

    12. Maksiat Warisan Umat Yang Pernah Diazab

    Misalnya, homoseksual adalah warisan umat nabi Luth as. Perbuatan curang dengan mengurangi takaran adalah peninggalan kaum Syu’aib as. Kesombongan di muka bumi dan menciptakan berbagai kerusakan adalah milik Fir’aun dan kaumnya. Sedangkan takabur dan congkak merupakan warisan kaum Hud as. Dengan demikian bisa dikatakan, bahwa pelaku maksiat jaman sekarang adalah kaum yang memakai baju atau mencontoh umat terdahulu yang menjadi musuh Allah swt. Dalam musnad Imam Ahmad dari Ibmu Umar disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda, "Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongannya."

    13. Maksiat Menimbulkan Kehinaan dan Mewariskan Kehinadinaan

    Kehinaan itu tidak lain adalah akibat perbuatan maksiatnya kepada Allah sehingga Allah pun menghinakannya. „…Dan barang siapa yang dihinakan Allah, maka tidak seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki." (QS. Al-Hajj:18) Sedangkan kemaksiatan itu akan melahirkan kehinadinaan, karena kemuliaan itu hanya akan muncul dari ketaatan kepada Allah swt. „Barang siapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah lah kemuliaan itu …" (QS. Al-Faathir:10) Seorang Salaf pernah berdoa, „Ya Allah, anugerahilah aku kemuliaan melalui ketaatan kepada Mu, dan janganlah Engkau hina dinakan aku karena aku bermaksiat kepada Mu."

    14. Maksiat Merusak Akal

    Ulama Salaf berkata, bahwa seandainya seseorang itu masih berakal sehat, maka akal sehatnya itulah yang akan mencagahnya dari kemaksiatan kepada Allah. Dia akan berada dalam genggaman Allah, sementara malaikat menyaksikan dan nasihat Al-Qur’an pun mencegahnya, begitu pula dengan nasehat keimanan. Tidaklah seseorang melakukan maksiat kecuali akalnya telah hilang.

    15. Maksiat Menutup Hati

    Allah berfirman, „Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka." (Al-Muthoffifiin:14) Imam Hasan mengatakan hal itu sebagai dosa yang berlapis dosa. Ketika dosa dan maksiat telah menumpuk maka hatinya pun telah tertutup.

    16. Maksiat Dilaknat Rasulullah SAW

    Rasulullah saw melaknat perbuatan maksiat seperti mengubah petunjuk jalan, padahal petunjuk jalan itu sangat penting (HR Bukhari), melakukan perbuatan homoseksual (HR Muslim), menyerupai laki-laki bagi wanita dan menyerupai wanita bagi laki-laki, mengadakan praktek suap-manyuap (HR Tarmidzi) dan sebagainya.

    17. Maksiat Menghalangi Syafaat Rasul dan Malaikat

    Kecuali bagi mereka yang bertobat dan kembali ke pada jalan yang lurus, sebagaimana Allah swt berfirman : „(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan) : „Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyla-nyala. Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang sholeh diantara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan." (QS: Al-Mukmin:7-9)

    18. Maksiat Melenyapkan Malu

    Malu adalah pangkal kebajikan, jika rasa malu telah hilang, hilangkah seluruh kebaikannya. Rasulullah bersabda : „Malu itu merupakan kebaikan seluruhnya. Jika kamu tidak merasa malu, berbuatlah sesukamu." (HR. Bukhari)

    19. Maksiat Meremehkan Allah

    Jika seseorang berlaku maksiat, disadari atau tidak, rasa untuk mengagungkan Allah perlahan-lahan lenyap dari hati. Jika perasaan itu masih ada, tentulah ia akan mencegahnya dari berlaku maksiat.

    20. Maksiat Memalingkan Perhatian Allah

    Allah akan membiarkan orang yang terus-menerus berbuat maksiat berteman dengan syaitan. Allah berfirman : „Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS. Al-Hasyir:19)

    21. Maksiat Melenyapkan Nikmat dan Mendatangkan Azab

    Allah berfirman : „Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)." (QS Asy-Syura:30)

    Ali ra berkata : „Tidaklah turun bencana malainkan karena dosa. Dan tidaklah bencana lenyap melainkan karena tobat."

    22. Maksiat Memalingkan Istiqamah

    Orang yang hidup di dunia ini bagaikan seorang pedagang. Pedagang yang cerdik tentu akan menjual barangnya kepada pembeli yang sanggup membayar dengan harga tinggi. Ialah Allah yang akan membeli barang itu dan dibayarnya dengan kehidupan surga yang abadi. Jika seseorang menjualnya dengan imbalan kehidupan dunia yang fana, ketika itulah ia tertipu

     

    Sumber: Buku Akibat Berbuat Maksiat – Ibnul Qayyim Al-Jauziah

     
  • arifrohmadi 10:38 pm on August 29, 2012 Permalink | Balas  

    Asma’ul Husna (Nama-Nama Allah yang Indah) 

    “Milik Allahlah nama – nama yang indah, dan mohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama – nama tersebut” (Al – A`raaf [7]: 180)

    1 Ar-Rahman (Maha Pemurah) 51 Al-Haq (Maha Benar)
    2 Ar-Rahim (Maha Penyayang) 52 Al-Wakil (Maha Mencukupi)
    3 Al-Malik (Maha Menguasai) 53 Al-Qawiyy (Maha Kuat)
    4 Al-Quddus (Maha Suci) 54 Al-Matin (Maha Sempurna Kekuatannya)
    5 As-Salaam (Maha Sejahtera) 55 Al-Waliyy (Maha Memerintah)
    6 Al-Mukmin (Maha Mengurniakan Keamanan) 56 Al-Hamid (Maha Terpuji)
    7 Al-Muhaimin (Maha Memelihara) 57 Al-Muhsi (Maha Menghitung)
    8 Al-Aziz (Maha Perkasa) 58 Al-Mubdi (Maha Pencipta dari Asal)
    9 Al-Jabbar (Maha Kuasa) 59 Al-Muid (Maha Memulihkan)
    10 Al-Mutakabbir (Maha Memiliki Segala Keagungan) 60 Al-Muhyi (Maha Menghidupkan)
    11 Al-Khaaliq (Maha Menciptakan) 61 Al-Mumit (Maha Pemusnah)
    12 Al-Baari (Maha Mengadakan) 62 Al-Hayy (Yang Hidup Kekal)
    13 Al-Musawwir (Maha Membentuk Rupa) 63 Al-Qayyum (Maha Mandiri)
    14 Al-Ghaffar (Maha Pengampun) 64 Al-Waajid (Maha Mencarikan)
    15 Al-Qahhar (Maha Mengalahkan) 65 Al-Maajid (Maha Mulia)
    16 Al-Wahhab (Maha Pemberi Kurnia) 66 Al-Waahid (Maha Esa)
    17 Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki) 67 Al-Ahad (Maha Esa)
    18 Al-Fattah (Maha Pemberi Keputusan) 68 As-Samad (Tumpuan Segala Hajat)
    19 Al-Alim (Maha Mengetahui) 69 Al-Qaadir (Maha Berkuasa)
    20 Al-Qaabiz (Maha Menyempitkan) 70 Al-Muqtadir (Maha Menentukan)
    21 Al-Baasit (Maha Melapangkan) 71 Al-Muqaddim (Maha Menyegerakan)
    22 Al-Khaafiz (Maha Merendahkan) 72 Al-Muakkhir ( Maha Penangguh)
    23 Ar-Rafi (Maha Meninggikan) 73 Al-Awwal (Maha Awal)
    24 Al-Muizz (Maha Memuliakan) 74 Al-Aakhir (Maha Akhir)
    25 Al-Mudzill (Yang Menghinakan) 75 Azh – Zhaahir (Maha Nyata)
    26 As-Sami’ (Maha Mendengar) 76 Al-Baatin (Maha Tersembunyi)
    27 Al-Basir (Maha Melihat) 77 Al-Waaliyy (Maha Memerintah)
    28 Al-Hakam (Maha Mengadili) 78 Al-Muta-aali (Maha Tinggi)
    29 Al-Adl (Yang Mempunyai Keadilan) 79 Al-Barr (Maha Membuat Kebajikan)
    30 Al-Latif (Maha Lemah Lembut) 80 At-Tawwaab (Maha Penerima Taubat)
    31 Al-Khabir (Maha Berwaspada) 81 Al-Muntaqim (Maha Pembalas Dendam)
    32 Al-Halim (Maha Penyantun) 82 Al-Afuw (Maha Pemaaf)
    33 Al-Adzim (Maha Besar) 83 Ar-Rauf (Maha Pengasih)
    34 Al-Ghafur (Maha Pengampun) 84 Maalikul-Mulk (Maha Menguasai Kerajaan)
    35 As-Syakuur (Maha Mensyukuri) 85 Dzul Jalaali Wal Ikraam (Maha Memiliki Kebesaran dan Kemulian)
    36 Al-‘Aliiyy (Maha Tinggi) 86 Al-Muqsit (Maha Mengadili)
    37 Al-Kabir (Maha Berwaspada) 87 Al-Jami’ (Maha Mengumpulkan)
    38 Al-Hafiz (Maha Memelihara, Maha Melindungi) 88 Al-Ghaniiyy (Maha Kaya)
    39 Al-Muqit (Maha Memelihara, Maha Memberi Kekuatan) 89 Al-Mughniiy (Maha Memakmurkan)
    40 Al-Hasib (Maha Penghitung) 90 Al–Maani` (Maha Mencegah, Maha Menolak)
    41 Al-Jalil (Maha Mulia) 91 Adh-Dhaarr (Maha Pemberi Bahaya)
    42 Al-Karim (Maha Pemurah) 92 An-Naafi’ (Maha Memberi Manfaat)
    43 Ar-Raqib (Maha Mengawasi) 93 An-Nur (Maha Bercahaya)
    44 Al-Mujib (Maha Mengabulkan) 94 Al-Haadi (Maha Petunjuk)
    45 Al-Waasi’ (Maha Lapang) 95 Al-Badii` (Maha Pencipta Yang Baru)
    46 Al-Hakim (Maha Bijaksana) 96 Al-Baaqiiy (Maha Kekal)
    47 Al-Wadud (Maha Pengasih) 97 Al-Waarist (Maha Mewarisi)
    48 Al-Majid (Maha Mulia) 98 Ar-Rasyiid (Maha Pandai)
    49 Al-Baaith (Maha Membangkitkan) 99 As-Shabuur (Maha Penyabar)
    50 As-Shahid (Maha Menyaksikan)    

    Sumber:
    http://www.angelfire.com
    http://tidakmenarik.wordpress.com

     
  • arifrohmadi 10:10 am on June 3, 2012 Permalink | Balas  

    Pernah Allah SWT bertanya kepada Nabi Yakub a… 

    Pernah Allah SWT bertanya kepada Nabi Yakub a.s. :

    "Tahukah kamu kenapa Kupisahkan engkau dengan puteramu Yusuf?"
    "Tidak, ya Tuhanku," jawab Nabi Yakub a.s.
    "Yaitu karena kata-katamu yang mengatakan, "Aku takut karena dia akan dimakan serigala waktu kamu (saudara-saudara Yusuf) lalai bermain-main", Kenapa engkau bimbang pada serigala tetapi tidak menyatakan harapan pada-Ku? Engkau hanya memandang kelalaian saudara-saudaranya saja tapi engkau tidak memandang perlindungan-Ku terhadapnya (Yusuf)."
    Kemudian Allah bertanya lagi pada Nabi Yakub a.s.,
    "Tahukah kamu kenapa Yusuf Aku kembalikan padamu?"
    "Tidak, ya Tuhanku," jawab Nabi Yakub a.s.
    "Juga karena kata-katamu, "Semoga Allah akan mengembalikan semua padaku". Dan karena kata-katamu, "Pergilah untuk mencari Yusuf dan adiknya dan janganlah kamu berputus asa."

     

    sumber: Irdy

     
  • arifrohmadi 5:56 am on May 7, 2012 Permalink | Balas  

    Lirik Lagu Sedekah [Opick feat Amanda] 

    Alangkah indah orang bersedekah
    dekat dengan Allah dekat dengan surga
    takkan berkurang harta yang sedekah
    akan bertambah akan bertambah

    Allah Maha Kaya yang Maha Pemurah
    Yang akan mengganti dan membalasnya
    Allah Maha Kuasa yang Maha Perkasa
    Semoga kan membalas surga..

     
    *
    Oh..indahnya saling berbagi
    saling memberi kar’na Allah
    Oh..indahnya saling menjaga
    saling mengasihi kar’na Allah

    Alangkah indah orang bersedekah
    dekat dengan Allah dekat dengan surga
    takkan berkurang harta yang sedekah
    akan bertambah akan bertambah

    back to *

    Allah Maha Kaya yang Maha Pemurah
    Yang akan mengganti dan membalasnya
    Allah Maha Kuasa yang Maha Perkasa
    Semoga kan membalas surga..

    back to *

     
  • arifrohmadi 10:03 am on September 18, 2010 Permalink | Balas  

    Jika Al-Qur’an Bisa Bicara !! 

    Waktu engkau masih kanak-kanak, kau laksana kawan sejatiku

    Dengan wudhu, aku kau sentuh dalam keadaan suci

    Aku kau pegang, kau junjung dan kau pelajari

    Aku engkau baca dengan suara lirih ataupun keras setiap hari

    Setelah usai engkaupun selalu menciumku mesra

     

    Sekarang engkau telah dewasa….

    Nampaknya kau sudah tak berminat lagi padaku….

    Apakah aku bacaan usang yang tinggal sejarah….

    Menurutmu barangkali aku bacaan yang tidak menambah pengetahuanmu

    Atau menurutmu aku hanya untuk anak kecil yang belajar mengaji saja?

     

    Sekarang aku engkau simpan rapi sekali hingga kadang engkau lupa dimana menyimpannya??

    Aku sudah engkau anggap hanya sebagai perhiasan rumahmu

    Kadang kala aku dijadikan mas kawin agar engkau dianggap bertaqwa

    Atau aku kau buat penangkal untuk menkuti hantu atau syetan

     

    Kini aku lebih banyak tersingkir, dibiarkan dalam kesendirian dalam kesepian

    Di atas lemari, di dalam laci, aku engkau pendamkan

    Dulu…. pagi-pagi….. surah-surah yang ada padaku engkau baca beberapa halaman

    Sore harinya aku kau baca beramai-ramai bersama temanmu di surau….

     

    Sekarang…. pagi-pagi sambil minum kopi…. engkau baca koran pagi atau nonton berita TV

    Waktu senggang…. engkau sempatkan membaca buku karangan manusia

    Sedangkan aku yang berisi ayat-ayat yang datang dari Allah Yang Maha Perkasa

    Engkau campakkan, engkau abaikan dan engkau lupakan….

    Waktu berangkat kerjapun kadang engkau lupa baca pembuka surah-surahku (Basmalah)

    Diperjalanan engkau lebih asyik menikmati musik duniawi

    Tidak ada kaset yang berisi ayat Allah yang terdapat padaku di laci mobilmu

     

    Sepanjang perjalanan radiomu selalu tertuju ke stasiun radio favoritmu

    Aku tahu kalau itu bukan Stasiun Radio yang senantiasa melantunkan ayatku

    Di meja kerjamu tidak ada aku untuk kau baca sebelum kau mulai kerja

    Di komputermu pun kau putar musik favoritmu

    Jarang sekali egkau putar ayat-ayatku melantun

    E-Mail temanmu yang ada ayat-ayatkupun kadang kau abaikan

    Engkau terlalu sibuk dengan urusan duniamu

     

    Benarlah dugaanku bahwa engkau kini sudah benar-benar melupakanku

    Bila malam tiba engkau tahan nongkrong berjam-jam di depan TV

    Menonton pertandingan Liga Italia, musik atau film dan sinetron laga

    Di depan komputer berjam-jam engkau betah duduk

    Hanya sekedar membaca berita murahan dan gambar sampah

    Waktupun cepat berlalu… aku menjadi semakin kusam dalam lemari

    Mengumpul debu dilapisi abu dan mungkin dimakan kutu

     

    Seingatku hanya awal Ramadhan engkau membacaku kembali

    Itupun hanya beberapa lembar dariku

    Dengan suara dan lafadz yang tidak semerdu dulu

    Engkaupun kini terbata-bata dan kurang lancar lagi setiap membacaku

    Apakah koran, TV, radio, komputer, dapat memberimu pertolongan??Bila engkau dikubur sendirian menunggu sampai kiamat tiba

     

    Engkau akan diperiksa oleh para malaikat suruhanNya

    Hanya dengan ayat-ayat Allah yang ada padaku engkau dapat selamat melaluinya

    Sekarang engkau begitu enteng membuang waktumu…

    Setiap saat berlalu… kuranglah jatah umurmu…

    Dan akhirnya kubur senantiasa menunggu kedatanganmu…

     

    Engkau bisa kembali kepada Tuhanmu sewaktu-waktu

    Apabila malaikat maut menetuk pintu rumahmu

    Bila aku engkau baca selalu dan engkau hayati…

    Di kuburmu nanti….

     

    Aku akan datang sebagai pemuda gagah nan tampan

    Yang akan membantu engkau membela diri

    Bukan koran yang engkau baca yang akan membantumu

    Dari perjalanan di alam akhirat

    Tapi Akulah "Qur’an" kitab sucimu

    Yang senantiasa setia menemani dan melindungimu

     

    Peganglah aku lagi… bacalah kembali aku setiap hari

    Karena ayat-ayat yang ada padaku adalah ayat suci yang berasal dari Alloh,

    Tuhan Yang Maha Mengetahui

    Yang disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad Rasulullah

    Keluarkanlah segera aku dari lemari atau lacimu…

     

    Jangan lupa bawa kaset yang ada ayatku dalam laci mobilmu

    Letakkan aku selalu di depan meja kerjamu

    Agar engkau senantiasa mengingat Tuhanmu

     

    Sentuhilah aku kembali…

    Baca dan pelajari lagi aku…

    Setiap datangnya pagi dan sore hari

    Seperti dulu… dulu sekali…

    Waktu engkau masih kecil, lugu dan polos…

    Di surau kecil kampungmu yang damai

     

    Jangan aku engkau biarkan sendiri…

    Dalam bisu dan sepi…

    Maha Benar Alloh, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana

     
  • arifrohmadi 9:39 pm on January 22, 2010 Permalink | Balas  

    Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah 

    Syeikhul Islam Taqiyuddin Abul Abbas Ahmad Bin Abdul Halim Bin Abdus Salam Bin Abdullah bin Al-Khidhir bin Muhammad bin Taimiyah An- Numairy Al Harani Adimasqi Al Hambali. Beliau adalah Imam, Qudwah, ‘Alim, Zahid dan Da’i ila Allah, baik dengan kata, tindakan, kesabaran maupun jihadnya. Syaikhul Islam, Mufti Anam, pembela dinullah dan penghidup sunah Rasul shalallahu’alaihi wa sallam yang telah dimatikan oleh banyak orang.

    Lahir di Harran, salah satu kota induk di Jazirah Arabia yang terletak antara sungai Dajalah (Tigris) dengan Efrat, pada hari Senin 10 Rabiu’ul Awal tahun 661H. Beliau berhijrah ke Damasyq (Damsyik) bersama orang tua dan keluarganya ketika umurnya masih kecil, disebabkan serbuan tentara Tartar atas negerinyaa. Mereka menempuh perjalanan hijrah pada malam hari dengan menyeret sebuah gerobak besar yang dipenuhi dengan kitab-kitab ilmu, bukan barang-barang perhiasan atau harta benda, tanpa ada seekor binatang tunggangan-pun pada mereka.

    Suatu saat gerobak mereka mengalami kerusakan di tengah jalan, hingga hampir saja pasukan musuh memergokinya. Dalam keadaan seperti ini, mereka ber-istighatsah (mengadukan permasalahan) kepada Allah Ta’ala. Akhirnya mereka bersama kitab- kitabnya dapat selamat.

     

    PERTUMBUHAN DAN GHIRAHNYA KEPADA ILMU

    Semenjak kecil sudah nampak tanda-tanda kecerdasan pada diri beliau. Begitu tiba di Damsyik beliau segera menghafalkan Al-Qur’an dan mencari berbagai cabang ilmu pada para ulama, huffazh dan ahli-ahli hadits negeri itu. Kecerdasan serta kekuatan otaknya membuat para tokoh ulama tersebut tercengang.

    Ketika umur beliau belum mencapai belasan tahun, beliau sudah menguasai ilmu Ushuluddin dan sudah mengalami bidang-bidang tafsir, hadits dan bahasa Arab.

    Pada umur-umur itu, beliau telah mengkaji musnad Imam Ahmad sampai beberapa kali, kemudian kitabu-Sittah dan Mu’jam At-Thabarani Al-Kabir.

    Suatu kali, ketika beliau masih kanak-kanak pernah ada seorang ulama besar dari Halab (suatu kota lain di Syria sekarang, pen.) yang sengaja datang ke Damasyiq, khusus untuk melihat si bocah bernama Ibnu Taimiyah yang kecerdasannya menjadi buah bibir. Setelah bertemu, ia memberikan tes dengan cara menyampaikan belasan matan hadits sekaligus. Ternyata Ibnu Taimiyah mampu menghafalkannya secara cepat dan tepat. Begitu pula ketika disampaikan kepadanya beberapa sanad, beliaupun dengan tepat pula mampu mengucapkan ulang dan menghafalnya. Hingga ulama tersebut berkata: “Jika anak ini hidup, niscaya ia kelak mempunyai kedudukan besar, sebab belum pernah ada seorang bocah seperti dia.

    Sejak kecil beliau hidup dan dibesarkan di tengah-tengah para ulama, mempunyai kesempatan untuk mereguk sepuas-puasnya taman bacaan berupa kitab-kitab yang bermanfaat. Beliau infakkan seluruh waktunya untuk belajar dan belajar, menggali ilmu terutama kitabullah dan sunah Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam.

    Lebih dari semua itu, beliau adalah orang yang keras pendiriannya dan teguh berpijak pada garis-garis yang telah ditentukan Allah, mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Beliau pernah berkata: ”Jika dibenakku sedang berfikir suatu masalah, sedangkan hal itu merupakan masalah yang muskil bagiku, maka aku akan beristighfar seribu kali atau lebih atau kurang. Sampai dadaku menjadi lapang dan masalah itu terpecahkan. Hal itu aku lakukan baik di pasar, di masjid atau di madrasah. Semuanya tidak menghalangiku untuk berdzikir dan beristighfar hingga terpenuhi cita-citaku.”

    Begitulah seterusnya Ibnu Taimiyah, selalu sungguh-sungguh dan tiada putus-putusnya mencari ilmu, sekalipun beliau sudah menjadi tokoh fuqaha’ dan ilmu serta dinnya telah mencapai tataran tertinggi.

    PUJIAN ULAMA

    Al-Allamah As-Syaikh Al-Karamy Al-Hambali dalam Kitabnya Al-Kawakib AD-Darary yang disusun kasus mengenai manaqib (pujian terhadap jasa-jasa) Ibnu Taimiyah, berkata: “Banyak sekali imam-imam Islam yang memberikan pujian kepada (Ibnu Taimiyah) ini. Diantaranya: Al-Hafizh Al-Mizzy, Ibnu Daqiq Al-Ied, Abu Hayyan An-Nahwy, Al-Hafizh Ibnu Sayyid An-Nas, Al-Hafizh Az-Zamlakany, Al-Hafidh Adz-Dzahabi dan para imam ulama lain.

    Al-Hafizh Al-Mizzy mengatakan: “Aku belum pernah melihat orang seperti Ibnu Taimiyah … dan belum pernah kulihat ada orang yang lebih berilmu terhadap kitabullah dan sunnah Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam serta lebih ittiba’ dibandingkan beliau.”

    Al-Qadhi Abu Al-Fath bin Daqiq Al-Ied mengatakan: “Setelah aku berkumpul dengannya, kulihat beliau adalah seseorang yang semua ilmu ada di depan matanya, kapan saja beliau menginginkannya, beliau tinggal mengambilnya, terserah beliau. Dan aku pernah berkata kepadanya: “Aku tidak pernah menyangka akan tercipta manusia seperti anda.”

    Al-Qadli Ibnu Al-Hariry mengatakan: “Kalau Ibnu Taimiyah bukah Syaikhul Islam, lalu siapa dia ini ?” Syaikh Ahli nahwu, Abu Hayyan An-Nahwi, setelah beliau berkumpul dengan Ibnu Taimiyah berkata: “Belum pernah sepasang mataku melihat orang seperti dia…” Kemudian melalui bait-bait syairnya, beliau banyak memberikan pujian kepadanya.

    Penguasaan Ibnu Taimiyah dalam beberapa ilmu sangat sempurna, yakni dalam tafsir, aqidah, hadits, fiqh, bahasa arab dan berbagai cabang ilmu pengetahuan Islam lainnya, hingga beliau melampaui kemampuan para ulama zamannya. Al-‘Allamah Kamaluddin bin Az-Zamlakany (wafat th. 727 H) pernah berkata: “Apakah ia ditanya tentang suatu bidang ilmu, maka siapa pun yang mendengar atau melihat (jawabannya) akan menyangka bahwa dia seolah-olah hanya membidangi ilmu itu, orang pun akan yakin bahwa tidak ada seorangpun yang bisa menandinginya”. Para Fuqaha dari berbagai kalangan, jika duduk bersamanya pasti mereka akan mengambil pelajaran bermanfaat bagi kelengkapan madzhab-madzhab mereka yang sebelumnya belum pernah diketahui. Belum pernah terjadi, ia bisa dipatahkan hujahnya. Beliau tidak pernah berkata tentang suatu cabang ilmu, baik ilmu syariat atau ilmu lain, melainkan dari masing-masing ahli ilmu itu pasti terhenyak. Beliau mempunyai goresan tinta indah, ungkapan-ungkapan, susunan, pembagian kata dan penjelasannya sangat bagus dalam penyusunan buku-buku.”

    Imam Adz-Dzahabi rahimahullah (wafat th. 748 H) juga berkata: “Dia adalah lambang kecerdasan dan kecepatan memahami, paling hebat pemahamannya terhadap Al-Kitab was-Sunnah serta perbedaan pendapat, dan lautan dalil naqli. Pada zamannya, beliau adalah satu-satunya baik dalam hal ilmu, zuhud, keberanian, kemurahan, amar ma’ruf, nahi mungkar, dan banyaknya buku-buku yang disusun dan amat menguasai hadits dan fiqh.

    Pada umurnya yang ke tujuh belas beliau sudah siap mengajar dan berfatwa, amat menonjol dalam bidang tafsir, ilmu ushul dan semua ilmu-ilmu lain, baik pokok-pokoknya maupun cabang-cabangnya, detailnya dan ketelitiannya. Pada sisi lain Adz-Dzahabi mengatakan: “Dia mempunyai pengetahuan yang sempurna mengenai rijal (mata rantai sanad), Al-Jarhu wat Ta’dil, Thabaqah-Thabaqah sanad, pengetahuan ilmu-ilmu hadits antara shahih dan dhaif, hafal matan-matan hadits yang menyendiri padanya ….. Maka tidak seorangpun pada waktu itu yang bisa menyamai atau mendekati tingkatannya ….. Adz-Dzahabi berkata lagi, bahwa: “Setiap hadits yang tidak diketahui oleh Ibnu Taimiyah, maka itu bukanlah hadist.

    Demikian antara lain beberapa pujian ulama terhadap beliau.

    Sejarah telah mencatat bahwa bukan saja Ibnu Taimiyah sebagai da’i yang tabah, liat, wara’, zuhud dan ahli ibadah, tetapi beliau juga seorang pemberani yang ahli berkuda. Beliau adalah pembela tiap jengkal tan
    ah umat Islam dari kedzaliman musuh dengan pedannya, seperti halnya beliau adalah pembela aqidah umat dengan lidah dan penanya.

    Dengan berani Ibnu Taimiyah berteriak memberikan komando kepada umat Islam untuk bangkit melawan serbuan tentara Tartar ketika menyerang Syam dan sekitarnya. Beliau sendiri bergabung dengan mereka dalam kancah pertempuran. Sampai ada salah seorang amir yang mempunyai diin yang baik dan benar, memberikan kesaksiannya: “…… tiba-tiba (di tengah kancah pertempuran) terlihat dia bersama saudaranya berteriak keras memberikan komando untuk menyerbu dan memberikan peringatan keras supaya tidak lari …” Akhirnya dengan izin Allah Ta’ala, pasukan Tartar berhasil dihancurkan, maka selamatlah negeri Syam, Palestina, Mesir dan Hijaz.

    Tetapi karena ketegaran, keberanian dan kelantangan beliau dalam mengajak kepada al-haq, akhirnya justru membakar kedengkian serta kebencian para penguasa, para ulama dan orang-orang yang tidak senang kepada beliau. Kaum munafiqun dan kaum lacut kemudian meniupkan racun-racun fitnah hingga karenanya beliau harus mengalami berbagai tekanan di pejara, dibuang, diasingkan dan disiksa.

    KEHIDUPAN PENJARA

    Hembusan-hembusan fitnah yang ditiupkan kaum munafiqin serta antek-anteknya yang mengakibatkan beliau mengalami tekanan berat dalam berbagai penjara, justru dihadapi dengan tabah, tenang dan gembira. Terakhir beliau harus masuk ke penjara Qal’ah di Dimasyq. Dan beliau berkata: “Sesungguhnya aku menunggu saat seperti ini, karena di dalamnya terdapat kebaikan besar.”

    Dalam syairnya yang terkenal beliau juga berkata: “Apakah yang diperbuat musuh padaku !!!! Aku, taman dan dikebunku ada dalam dadaku Kemanapun ku pergi, ia selalu bersamaku dan tiada pernah tinggalkan aku. Aku, terpenjaraku adalah khalwat, Kematianku adalah mati syahid. Terusirku dari negeriku adalah rekreasi.

    Beliau pernah berkata dalam penjara: “ Orang dipenjara ialah orang yang terpenjara hatinya dari Rabbnya, orang yang tertawan ialah orang yang ditawan orang oleh hawa nafsunya.”

    Ternyata penjara baginya tidak menghalangi kejernihan fitrah islahiyah-nya, tidak menghalanginya untuk berdakwah dan menulis buku-buku tentang Aqidah, Tafsir dan kitab-kitab bantahan terhadap ahli-ahli bid’ah.

    Pengagum-pengagum beliau diluar penjara semakin banyak. Sementara di dalam penjara, banyak penghuninya yang menjadi murid beliau, diajarkannya oleh beliau agar mereka iltizam kepada syari’at Allah, selalu beristighfar, tasbih, berdoa dan melakukan amalan-amalan shahih. Sehingga suasana penjara menjadi ramai dengan suasana beribadah kepada Allah. Bahkan dikisahkan banyak penghuni penjara yang sudah mendapat hak bebas, ingin tetap tinggal di penjara bersamanya. Akhirnya penjara menjadi penuh dengan orang-orang yang mengaji.

    Tetapi kenyataan ini menjadikan musuh-musuh beliau dari kalangan munafiqin serta ahlul bid’ah semakin dengki dan marah. Maka mereka terus berupaya agar penguasa memindahkan beliau dari satu penjara ke penjara yang lain. Tetapi inipun menjadikan beliau semakin terkenal. Pada akhirnya mereka menuntut kepada pemerintah agar beliau dibunuh, tetapi pemerintah tidak mendengar tuntutan mereka. Pemerintah hanya mengeluarkan surat keputusan untuk merampas semua peralatan tulis, tinta dan kertas-kertas dari tangan Ibnu Taimiyah.

    Namun beliau tetap berusaha menulis di tempat-tempat yang memungkinkan dengan arang. Beliau tulis surat-surat dan buku-buku dengan arang kepada sahabat dan murid-muridnya. Semua itu menunjukkan betapa hebatnya tantangan yang dihadapi, sampai kebebasan berfikir dan menulis pun dibatasi. Ini sekaligus menunjukkan betapa sabar dan tabahnya beliau. Semoga Allah merahmati, meridhai dan memasukkan Ibnu Taimiyah dan kita sekalian ke dalam surga-Nya.

     

    WAFATNYA

    Beliau wafatnya di dalam penjara Qal’ah Dimasyq disaksikan oleh salah seorang muridnya yang menonjol, Al-‘Allamah Ibnul Qayyim Rahimahullah.

    Beliau berada di penjara ini selama dua tahun tiga bulan dan beberapa hari, mengalami sakit dua puluh hari lebih. Selama dalam penjara beliau selalu beribadah, berdzikir, tahajjud dan membaca Al-Qur’an. Dikisahkan, dalam tiap harinya ia baca tiga juz. Selama itu pula beliau sempat menghatamkan Al-Qur’an delapan puluh atau delapan puluh satu kali.

    Perlu dicatat bahwa selama beliau dalam penjara, tidak pernah mau menerima pemberian apa pun dari penguasa.

    Jenazah beliau dishalatkan di masjid Jami’Bani Umayah sesudah shalat Zhuhur. Semua penduduk Dimasyq (yang mampu) hadir untuk menshalatkan jenazahnya, termasuk para Umara’, Ulama, tentara dan sebagainya, hingga kota Dimasyq menjadi libur total hari itu. Bahkan semua penduduk Dimasyq (Damaskus) tua, muda, laki, perempuan, anak-anak keluar untuk menghormati kepergian beliau.

    Seorang saksi mata pernah berkata: “Menurut yang aku ketahui tidak ada seorang pun yang ketinggalan, kecuali tiga orang musuh utamanya. Ketiga orang ini pergi menyembunyikan diri karena takut dikeroyok masa. “Bahkan menurut ahli sejarah, belum pernah terjadi jenazah yang dishalatkan serta dihormati oleh orang sebanyak itu melainkan Ibnu Taimiyah dan Imam Ahmad bin Hambal.

    Beliau wafat pada tanggal 20 Dzul Hijjah th. 728 H, dan dikuburkan pada waktu Ashar di samping kuburan saudaranya Syaikh Jamal Al-Islam Syarafuddin. Semoga Allah merahmati Ibnu Taimiyah, tokoh Salaf, da’i, mujahidd, pembasmi bid’ah dan pemusnah musuh. Wallahu a’lam.

     

     

    (Dikutip: Ibnu Taimiyah, Bathal Al-Islah Ad-Diny. Mahmud Mahdi Al-Istambuli. Maktabah Dar-Al-Ma’rifah–Dimasyq )

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal